PEMBUATAN
MINI KOMPOSTER
OLEH : IRVAN INDRI ATMAKA
NPM : 10131010008
DOSEN PEMBIMBING : Prof. SUPLI EFFENDI RAHIM
PROGRAM PASCA SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT
PEMINATAN ADMINISTRASI DAN KEBIJAKAN KESEHATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA HUSADA
PALEMBANG
Sampah
Rumah Tangga terdiri dari sampah organic dan anorganik.
1. Sampah organik dibagi dua yaitu :
Ø Sampah Organik Hijau (sisa sayur mayur dari dapur). Contohnya
: tangkai/daun singkong, papaya, kangkung, bayam, kulit terong, wortel, labuh
siam, ubi, singkong, kulit buah-buahan, nanas, pisang, nangka, daun pisang,
semangka, ampas kelapa, sisa sayur / lauk pauk, dan sampah dari kebum (rumput,
daun-daun kering/basah).
Ø Sampah Organik Hewan yang dimakan seperti ikan, udang,
ayam, daging, telur dan sejenisnya. Sampah organik hijau dipisahkan dari sampah
organik hewan agar kedua bahan ini bisa diproses tersendiri untuk dijadikan
kompos.
2. Sampah anorganik yaitu berupa bahan-bahan seperti kertas,
karton, besek, kaleng, bermacam-macam jenis plastik, styrofoam, dll.
Pembuatan kompos
(composting) dapat dijadikan jalan keluar dalam mengelola limbah. Kompos sangat
berguna dalam memanfaatkan sampah organik (berasal dari benda hidup) menjadi
material yang dapat menyuburkan tanah (pupuk kompos). Selain itu, pembuatan
kompos secara komersil dapat dijadikan sebuah peluang usaha yang menggiurkan.
Seiring dengan berjalannya waktu, sampah yang dihasilkan manusia akan terus
bertambah dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia tersebut. Sampah yang
tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, bahkan
sampah telah menjadi masalah serius di perkotaan. Kompos dapat dibuat untuk
meminimalisasi efek negatif yang ditimbulkan sampah dengan membuatnya menjadi
lebih bermanfaat secara ekologis maupun finansial. Pemanfaatan sampah organik pada pembuatan kompos ini
dapat dijadikan jalan keluar dalam mencegah timbulnya kembali tumpukan sampah
seberat ribuan ton yang telah menyebabkan longsor dan korban jiwa. Jika saja
sebelumnya sampah tersebut dapat diolah menjadi kompos, maka musibah longsor
dan korban jiwa dapat dihindarkan.
B. PRINSIP PENGOMPOSAN
Christopher J. Starbuck, seorang ahli holtikultura
dari University of Missouri menjelaskan, kompos merupakan bahan organik yang telah membusuk beberapa bagian
(partially decomposed) sehingga berwarna gelap, mudah hancur (crumbled),
dan memiliki aroma seperti tanah (earthy). Kompos dibuat melalui proses biologi, yaitu seperti penguraian
pada jaringan tumbuhan oleh organisme yang ada dalam tanah (soil).
Ketika proses pembusukan selesai, kompos
akan berwarna coklat kehitaman dan menjadi material bubuk bernama humus. Dalam
kondisi alami, hewan dan tumbuhan akan mati di atas tanah. Makhluk hidup yang
telah mati tersebut akan diuraikan bakteri pembusuk, kemudian membentuk suatu
material yang dapat menghidupkan dan menyuburkan tanaman. Proses yang terjadi
dalam pembuatan kompos ini tidak
jauh berbeda dengan proses pada penguraian tersebut. Oleh karena itu, pembuatan
kompos sering dianggap sebagai
seni dalam merubah kematian menjadi kehidupan (the art of turning death into
life).
National Organic Gardening Centre yang berada di Kota Coventry, Inggris dalam
publikasinya menjelaskan, pembuatan kompos
pada dasarnya adalah membuat suatu kondisi yang mendukung (favourable
condition) bagi pertumbuhan populasi mikroorganisme dalam proses pembusukan
untuk membuat material humus yang sangat penting bagi tanah. Pembusukan dalam
pembuatan kompos akan lebih
cepat (speeded up) dibandingkan dengan pembusukan yang terjadi pada
proses alami. Prinsip pembuatan kompos
merupakan pencampuran bahan organik dengan mikroorganisme sebagai aktivator.
Mikroorganisme tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber, seperti kotoran ternak (manure) atau
bakteri inokulan (bakterial inoculant) berupa Effective
Microorganisms (EM4), orgadec, dan stardec. Mikroorganisme
tersebut berfungsi dalam menjaga keseimbangan karbon (C) dan nitrogen (N) yang
merupakan faktor penentu keberhasilan pembuatan kompos.
C. APLIKASI
1.
Alat-alat yang diperlukan adalah:
Ø Pencacah
(pisau atau mesin pencacah).
Ø Bak komposter
mini lengkap dengan tutupnya (bias dibuat dari ember bekas cat ukuran 25 kg).
Ø Sprayer
untuk menyemprot bio aktivator.
Dokumentasi :
![]() |
| Hasil Akhir |
Design yang akan dibuat :
![]() |
| Sketsa |
2. Cara Pembuatan:
Ø
Pisahkan sampah daun / sayur dengan sampah
non organik.
Ø
Rajang / cincang / cacah sampah organic dengan
ukuran 1-2 cm.
Ø
Masukkan sampah organik yang sudah dicacah kedalam
komposter mini.
Ø
Semprot / siram sampah organic dengan larutan
bioaktivator hingga merata dengan takaran satu tutup botol (10 cc), dicampur dengan
satu liter air.
Ø
Tutup rapat-rapat bak komposter mini dan letakkan
di tempat teduh. Lakukan penyemprotan setiap kali memasukkan sampah organic dan
tutup kembali. Lakukan penambahan dan penyemprotan sampah organic secara berulang
sampai bak komposter mini penuh.
Ø
Diamkan selama tujuh sampai 14 hari agar
terjadi proses komposting yang akan menghasilkan pupuk cair dan pupuk padat. Pupuk
cair dan pupuk padat dipisahkan oleh saringan.
Ø
Pupuk cair dapat diambil dengan membuka keran
mulai pada hari ke-5 dan seterusnya. Jika air lindi (pupuk cair) berbau tak sedap,
campurkan dengan air dengan perbandingan 1 : 5. Tambahkan pula satu sendok makan
kapur sirih yang dilarutkan dengan air, kemudian tuang kedalam botol lindi.
Warna lindi akan berubah jadi agak jernih dan tak berbau.
Ø
Ambil pupuk padat yang sudah menjadi bubur kompos,
tambahkan bahan aditif (dapat berupa sekam, arang sekam, serbuk gergaji perbandingan
2 : 1).
Ø
Sebelum digunakan sebagai pupuk atau media
tanam, kompos harus terlebih dahulu dikeringkan dengan cara diangin-anginkan.
Ø
Pupuk organic cair dapat langsung digunakan sebagai
pupuk tanaman. Apabila pupuk cair organic akan disimpan, sebaiknya difermentasi
dahulu dengan bahan bioaktivator dengan perbandingan 4 : 1.
D. REFERENSI
(On Line) (http://www.rumah.com/berita-properti/2012/1/122/yuk-buat-pupuk-kompos-sendiri, diakses tanggal 25 April 2014).



Tidak ada komentar:
Posting Komentar