Sabtu, 10 Mei 2014

KESEHATAN LINGKUNGAN DENGAN PENDEKATAN EKOSISTEM



KESEHATAN LINGKUNGAN DENGAN PENDEKATAN EKOSISTEM
 OLEH : IRVAN INDRI ATMAKA
NPM : 10131010008
DOSEN PEMBIMBING : Prof. SUPLI EFFENDI RAHIM
PROGRAM PASCA SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT
PEMINATAN ADMINISTRASI DAN KEBIJAKAN KESEHATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA HUSADA
PALEMBANG

A.   KESEHATAN LINGKUNGAN.
Menurut Prof. Dr. Juli Soemairat Slamet, MPH, Ekologi manusia adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara setiap segi kehidupan manusia (fisik, mental, social) dengan lingkungan hidupnya (biofisis, psikososial) secara keseluruhan dan bersifat sintetis. Pengetahuan ekologi manusia ini merupakan dasar essensial untuk mengembangkan teknik-teknik baru dalam pengelolaan lingkungan.
Kehidupan manusia berpengaruh terhadap lingkungan, begitu juga sebaliknya lingkungan berpengaruh terhadap manusia. Kemampuan manusia untuk mengubah atau memodifikasi lingkungannya tergantung sekali pada taraf social budayanya. Masyarakat memiliki tingkat kemajuan social ekonomi yang yang berbeda-beda. Kita mengenal masyarakat tradisional dan masyarakat modern, masyarakat tradisional sangat tergantung kepada tradisi yang diwariskan dari nenek moyangnya. Sedangkan masyarakat modern memilikikemajuan dalam bidang social dan ekonomi serta ilmu dan teknologi. Masyarakat yang masih tradisional hanya mampu membuka hutan secukupnya untuk memberi perlindungan pada masyarakatnya. Sedangkan masyarakat yang sudah maju social ekonomi dan budayanya dapat mengubah lingkungan hidup sampai ke taraf yang tidak bisa dikembalikan lagi kepada kondisi semula (irreversible), sehingga terjadi perubahan lingkungan yang sangat drastis. Sawah-sawah dirubah menjadi perumahan dan gedung perkatoran, hutan-hutan dirubah menjadi sebuah daerah pemukiman dalam waktu yang singkat, gunung-gunung dibelah menjadi jalan.
Contoh lain, manusia sebagai mahluk hidup selain mendayagunakan unsur-unsur dari alam, ia juga membuang kembali segala sesuatu yang tidak dipergunakannya lagi kembali ke alam. Tindakan ini akan berakibat buruk terhadap manusia apabila jumlah buangan sudah terlampau banyak sehingga alam tidak lagi dapat membersihkan keseluruhannya (proses self purification terlampaui). Dengan demikian, terjadi pengotoran lingkungan dan sumber daya alam yang sangat dibutuhan untuk kehidupan manusia. Sebagai akibatnya manusia akan mengalami gangguan kesehatan.
1)    Definisi.
Ada beberapa definisi dari kesehatan lingkungan :
a)    Menurut WHO (World Health Organization), kesehatan lingkungan adalah suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia.
b)    Menurut HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia) kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dan lingkungannya untuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat dan bahagia.
c)    Kesehatan lingkungan adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara lingkungan dengan kesehatan manusia, tumbuhan, dan hewan dengan tujuan untuk meningkatkan faktor lingkungan yang menguntungkan dan mengendalikan faktor yang merugikan.
2)    Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan.
Menurut World Health Organization (WHO) ada 17 ruang lingkup kesehatan lingkungan, yaitu :
a)    Penyediaan Air Minum.
b)    Pengelolaan air Buangan dan pengendalian pencemaran.
c)    Pembuangan Sampah Padat.
d)    Pengendalian Vektor.
e)    Pencegahan/pengendalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia.
f)     Higiene makanan, termasuk higiene susu.
g)    Pengendalian pencemaran udara.
h)   Pengendalian radiasi.
i)     Kesehatan kerja.
j)      Pengendalian kebisingan.
k)    Perumahan dan pemukiman.
l)     Aspek kesling dan transportasi udara.
m)  Perencanaan daerah dan perkotaan.
n)   Pencegahan kecelakaan.
o)    Rekreasi umum dan pariwisata.
p)    Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi/wabah, bencana alam dan perpindahan penduduk.
q)    Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan.
Di Indonesia, ruang lingkup kesehatan lingkungan diterangkan dalam Pasal 22 ayat (3) UU No 23 tahun 1992 ruang lingkup kesehatan lingkungan ada 8, yaitu :
a)    Penyehatan Air dan Udara.
b)    Pengamanan Limbah padat/sampah.
c)    Pengamanan Limbah cair.
d)    Pengamanan limbah gas.
e)    Pengamanan radiasi.
f)     Pengamanan kebisingan.
g)    Pengamanan vektor penyakit.
h)   Penyehatan dan pengamanan lainnya, sepeti keadaan pasca bencana.
3)    Sasaran Kesehatan Lingkungan.
Menurut Pasal 22 ayat (2) UU 23/1992, Sasaran dari pelaksanaan kesehatan lingkungan adalah sebagai berikut :
a)    Tempat umum : hotel, terminal, pasar, pertokoan, dan usaha-usaha yang sejenis.
b)    Lingkungan pemukiman : rumah tinggal, asrama/yang sejenis.
c)    Lingkungan kerja : perkantoran, kawasan industri/yang sejenis.
d)    Angkutan umum : kendaraan darat, laut dan udara yang digunakan untuk umum.
e)    Lingkungan lainnya : misalnya yang bersifat khusus seperti lingkungan yang berada dlm keadaan darurat, bencana perpindahan penduduk secara besar2an, reaktor/tempat yang bersifat khusus.
4)    Masalah-Masalah Kesehatan Lingkungan Di Indonesia.
Masalah Kesehatan lingkungan merupakan masalah kompleks yang untuk mengatasinya dibutuhkan integrasi dari berbagai sector terkait. Di Indonesia permasalah dalam kesehatan lingkungan antara lain :
1)    Air Bersih. Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Syarat-syarat Kualitas Air Bersih diantaranya adalah sebagai berikut :
Ø  Syarat Fisik : Tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna.
Ø  Syarat Kimia : Kadar Besi : maksimum yang diperbolehkan 0,3 mg/l, Kesadahan (maks 500 mg/l).
Ø  Syarat Mikrobiologis : Koliform tinja/total koliform (maks 0 per 100 ml air).

Usaha memenuhi kebutuhan Air bersih
2)    Pembuangan Kotoran/Tinja. Metode pembuangan tinja yang baik yaitu dengan jamban dengan syarat sebagai berikut :
Ø  Tanah permukaan tidak boleh terjadi kontaminasi.
Ø  Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin memasuki mata air atau sumur.
Ø  Tidak boleh terkontaminasi air permukaan.
Ø  Tinja tidak boleh terjangkau oleh lalat dan hewan lain.
Ø  Tidak boleh terjadi penanganan tinja segar ; atau, bila memang benar-benar diperlukan, harus dibatasi seminimal mungkin.
Ø  Jamban harus babas dari bau atau kondisi yang tidak sedap dipandang.
Ø  Metode pembuatan dan pengoperasian harus sederhana dan tidak mahal.

Pembuangan tinja yang menggangu ekosistem
3)    Kesehatan Pemukiman. Secara umum rumah dapat dikatakan sehat apabila memenuhi kriteria sebagai berikut :
Ø  Memenuhi kebutuhan fisiologis, yaitu : pencahayaan, penghawaan dan ruang gerak yang cukup, terhindar dari kebisingan yang mengganggu.
Ø  Memenuhi kebutuhan psikologis, yaitu : privacy yang cukup, komunikasi yang sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah.
Ø  Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antarpenghuni rumah dengan penyediaan air bersih, pengelolaan tinja dan limbah rumah tangga, bebas vektor penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang tidak berlebihan, cukup sinar matahari pagi, terlindungnya makanan dan minuman dari pencemaran, disamping pencahayaan dan penghawaan yang cukup.
Ø  Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul karena keadaan luar maupun dalam rumah antara lain persyaratan garis sempadan jalan, konstruksi yang tidak mudah roboh, tidak mudah terbakar, dan tidak cenderung membuat penghuninya jatuh tergelincir.

Pemukiman yang tidak sehat
4)    Pembuangan Sampah. Teknik pengelolaan sampah yang baik dan benar harus memperhatikan faktor-faktor /unsur, berikut:
Ø  Penimbulan sampah. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi sampah adalah jumlah penduduk dan kepadatanya, tingkat aktivitas, pola kehidupan/tk sosial ekonomi, letak geografis, iklim, musim, dan kemajuan teknologi.
Ø  Penyimpanan sampah.
Ø  Pengumpulan, pengolahan dan pemanfaatan kembali.
Ø  Pengangkutan.
Ø  Pembuangan.

Pembuangan sampah tidak pada tempatnya
5)    Serangga dan Binatang Pengganggu. Serangga sebagai reservoir (habitat dan suvival) bibit penyakit yang kemudian disebut sebagai vektor misalnya : pinjal tikus untuk penyakit pes/sampar, Nyamuk Anopheles sp untuk penyakit Malaria, Nyamuk Aedes sp untuk Demam Berdarah Dengue (DBD), Nyamuk Culex sp untuk Penyakit Kaki Gajah/Filariasis. Penanggulangan/pencegahan dari penyakit tersebut diantaranya dengan merancang rumah/tempat pengelolaan makanan dengan rat proff (rapat tikus), Kelambu yang dicelupkan dengan pestisida untuk mencegah gigitan Nyamuk Anopheles sp, Gerakan 3 M (menguras mengubur dan menutup) tempat penampungan air untuk mencegah penyakit DBD, Penggunaan kasa pada lubang angin di rumah atau dengan pestisida untuk mencegah penyakit kaki gajah dan usaha-usaha sanitasi.

Hama penggangu penyebab penyakit
6)    Makanan dan Minuman. Sasaran higene sanitasi makanan dan minuman adalah restoran, rumah makan, jasa boga dan makanan jajanan (diolah oleh pengrajin makanan di tempat penjualan dan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual bagi umum selain yang disajikan jasa boga, rumah makan/restoran, dan hotel). Persyaratan hygiene sanitasi makanan dan minuman tempat pengelolaan makanan meliputi :
Ø  Persyaratan lokasi dan bangunan.
Ø  Persyaratan fasilitas sanitasi.
Ø  Persyaratan dapur, ruang makan dan gudang makanan.
Ø  Persyaratan bahan makanan dan makanan jadi.
Ø  Persyaratan pengolahan makanan.
Ø  Persyaratan penyimpanan bahan makanan dan makanan jadi.
Ø  Persyaratan peralatan yang digunakan.
Ø  Pencemaran Lingkungan.
Lingkungan sangat luas cakupannya. Lingkungan hidup adalah segala sesuatu yang ada di sekitar. Menurut kebutuhan, lingkungan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Ø  Lingkungan hidup (biotis) dan lingkungan tak hidup (abiotis).
Ø  Lingkungan alamiah dan lingkungan buatan.
Ø  Lingkungan prenatal dan lingkungan post natal.
Ø  Lingkungan biosfir dan lingkungan psikososial.
Ø  Lingkungan air (hidrosfir), lingkungan udara (atmosfir), lingkungan tanah (litosfir), lingkungan biologi (biosfir), dan lingkungan sosial (sosiosfir).
Ø  Kombinasi dari klasifikasi-klasifikasi tersebut.

B.   EKOSISTEM.
Keseimbangan suatu ekosistem akan terjadi, bila komponen-komponennya dalam jumlah yang berimbang. Komponen-komponen ekosistem mencakup : Faktor Abiotik, Produsen, Konsumen, Detritivora, dan Dekomposer (Pengurai). Di antara komponen-komponen ekosistem terjadi terjadi interaksi, saling membutuhkan dan saling memberikan apa yang menjadi sumber penghidupannya. Kita tidak dapat menyangkalnya, bahwa penyokong kehidupan di dunia adalah diciptakannya oleh Allah mula-mula faktor abiotik yang menyokong kehidupan tumbuh-tumbuhan sebagai produsen; kemudian tumbuh-tumbuhan menjadi penyokong kehidupan organisme lainnya (binatang dan manusia) sebagai konsumen maupun detritivora, dan akhirnya decomposer (bakteri dan jamur) mengembalikan unsur-unsur pembentuk makhluk hidup kembali ke alam lagi menjadi faktor-faktor abiotik; demikian seterusnya terjadilah daur ulang materi dan aliran energi di alam secara seimbang. Sumber energi untuk kehidupan di bumi adalah energi matahari, kemudian diikat dan digunakan oleh tumbuhan untuk mensintesis zat-zat anorganik sederhana menjadi zat-zat organic yang mengandung energi. Kandungan materi dan energi dari tumbuhan tersebut dipindahkan ke hewan atau manusia melalui proses rantai makanan dan jaring-jaring kehidupan, yang akhirnya materi dan energi kembali beredar lagi ke alam melalui proses pembusukan/perombakan yang dilakukan oleh dekomposer/pengurai.
Adanya saling ketergantungan antara faktor abiotik dengan faktor biotik, dan hubungan antar komponen di dalam faktor biotik sendiri, menunjukkan bahwa kehidupan manusia bergantung kepada kehidupan makhluk lainnya maupun kehidupan antar manusia sendiri. Pelajaran ini memberikan petunjuk bahwa manusia tidak bias menyombongkan diri atau tidak merasa butuh terhadap lainnya, apalagi manusia sebagai insane sosial sehingga tidak sepantasnya manusia yang satu membunuh manusia lainnya. Sebagai manusia adalah tidak berhak mencabut hak orang lain, kecuali kehendak dari Allah. Faktor abiotik sangat menentukan dalam sebaran dan kepadatan organisme dalam suatu daerah. Hal ini berkaitan erat dengan masalah adaptasi dan suksesi organism terhadap faktor-faktor lingkungannya. Adaptasi adalah suatu kemampuan makhluk hidup menyesuaikan diri terhadap kondisi lingkungannya; bisa melalui adaptasi morfologi, fisiologi dan adaptasi perilaku dari organisme yang berada dalam lingkungan yang ditempatinya. Adaptasi : (L. adaptare = menyesuaikan kepada, mencocokkan diri) Suatu proses menyesuaikan diri organisme terhadap lingkungannya, mencakup tiga jenis, yaitu:
1)    Adaptasi Morfologis.
Suatu jenis adaptasi menyangkut perubahan bentuk struktur tubuhnya disesuaikan dengan lingkungan hidupnya. Misalnya: Ikan bergerak dengan sirip, karena alat gerak yang cocok untuk hidup perairan adalah sirip, sedangkan hewan yang hidupnya di darat bergerak dengan kaki-kakinya. Pada golongan tumbuhan yang hidupnya di rawa pantai, ia memiliki buah/biji yang sudah berakar sebelum jatuh ke lumpur pantai agar dapat terus tumbuh di lingkungan tersebut, seperti golongan Rhizophora (tumbuhan bakau).
2)    Adaptasi Fisiologis.
Suatu jenis adaptasi menyangkut perubahan kerja faal organ tubuh disesuaikan dengan lingkungan hidupnya. Misalnya, golongan Amphibia semasa larva yang hidup di air bernapas dengan insang, sedangkan setelah dewasa hidup di darat bernapas dengan paru-paru. Pada tumbuhan adaptasi fisiologi ditunjukkan oleh luas permukaan daun-daunnya sehubungan dengan lingkungan hidupnya, seperti: tumbuhan serofit (hidup di gurun/ daerah kering, seperti kaktus) memiliki daun-daunnya serupa duri atau sempit saja, sedangkan tumbuhan hidrofit (hidup di air, seperti eceng gondok) memiliki daun-daunnya berukuran lebar-lebar dan batangnya berongga untuk mengimbangi kadar air tubuhnya dengan masalah penguapan yang terjadi.
3)    Adaptasi Perilaku.
Suatu jenis penyesuaian diri pada makhluk hidup yang ditunjukkan oleh perilakunya disebabkan oleh factor lingkungan. Contohnya, perubahan warna tubuh bunglon terhadap warna lingkungan di mana ia berada; bunglon berwarna hijau, jika berada di daun-daunan, dan ia berwarna hitam keabu-abuan jika berada di tanah. Contoh lainnya, lumba-lumba memiliki kebiasaan meloncat-loncat di atas permukaan air untuk menghirup udara, karena bernapas menggunakan paru-paru.

C.   KEHIDUPAN SIMBIOSIS.
Pelajaran dari berbagai simbiosis pada makhluk hidup di lingkungan, ada yang bersifat mutualisme, parasitisme, predatorisme, komensalisme, dan simbiosis antibiosisme, yaitu:
1)    Simbiosis Komensalisma.
Yaitu simbiosis yang bersifat anggota pasangannya tidak merasa dirugikan, tetapi anggota lainnya diuntungkan. Misalnya, kehidupan ikan remora (ikan kecil) yang menempel pada tubuh ikan hiu sewaktu ingin berpindah ke zone perairan lainnya. Ikan hiu ini tidak menggubris keberadaan ikan remora yang menempel pada tubuhnya. Beberapa jenis tumbuhan dapat hidup berdampingan sehingga manusia dapat memanfaatkannya dalam pertanian sistem ganda dan sistem tumpang sari. Jika ada kehidupan manusia yang kuat ekonominya dapat menjadi bapak angkat bagi manusia yang ekonomi lemah, maka tampaknya kemiskinan dalam kehidupan manusia dapat diberantas, dan terciptalah kehidupan manusia yang adil dan makmur. Allah memperingatkan kepada manusia yang mendapat rizki yang berlebih diterimanya ada hak bagi manusia lainnya seperti yang tergolong fakir miskin dan anak yatim-piatu(Q.S.Al-Mukminun:2-3).
2)    Simbiosis Mutualisma.
Yaitu simbiosis yang bersifat saling menguntungkan. Misalnya, antara golongan algae (ganggang) dengan jamur yang membentuk lichenes (lumut kerak), baik antara tumbuhan prokarion dengan tumbuhan eukarion (Cyanophyta dengan Ascomycotina menghasilkan Ascolichenes; contohnya Peltigera) maupun antar tumbuhan eukarion (Chlorophyta dengan Ascomycotina, contohnya Parmelia; dan Chlorophyta dengan Basidiomycotina menghasilkan Basidiolichenes, contohnya Cora pavonia). Bentuk pasangan tumbuhan tingkat rendah ini menjadi satu kekuatan yang besar menjadi tumbuhan perintis, karena mereka (lichenes) menjadi mampu hidup di batu-batuan di mana jenis tumbuhan lain tidak bisa tumbuh di sana. Batuan yang telah ditumbuhi oleh lichenes akhirnya menjadi lapuk dan berubah menjadi tanah untuk tumbuhnya jenis tumbuhan lainnya. Bentuk pasangan tumbuhan yang bersifat kekerabatan atau simbiosis yang saling menguntungkan tersebut memberikan petunjuk kepada manusia untuk bisa menirunya dalam kehidupan manusia dan untuk kesejahteraan hidupnya, seperti halnya pada lichenes yang bersifat simbiosis mutualistis dan diisyaratkan dalam Q.S.Al-Hujurat:13. Lichenes : (Gk. leichen = lumut kerak, lihens) Suatu organisme berbentuk thallus sebagi hasil simbiosis antara golongan jamur dengan algae tertentu, yang dikenal dengan sebutan lumut kerak. Lumut kerak adalah bukan lumut, hanya ada yang bentuknya mirip lumut hati. Golongan jamur yang membentuk Lichenes adalah kelas Basidiomycetes dan Ascomycetes, sedangkan pasangan algae-nya dari golongan Chlorophyta dan Cyanophyta yang bersel satu. Jamur mengadakan simbiosis dengan algae, karena ia sendiri tidak dapat berfotosintesis sehingga perlu mendapat zat-zat makanan dari algae itu, sebaliknya algae bersimbiosis dengan jamur, karena ia yang tubuhnya bersel satu adalah sangat renta terhadap kondisi alam sehingga perlu berlindung kepada organisme yang massanya lebih besar dan memperoleh air secara cukup dari jamur itu. Dengan adanya simbiosis hidup tersebut, golongan lichens mampu hidup di tempat-tempat yang makhluk hidup lainnya tidak dapat hidup padanya, seperti di batuan-batuan, sehingga dikenal dengans sebutan sebagai organisme perintis bagi kehidupan di bumi.
3)    Simbiosis Parasitisme.
Yaitu simbiosis yang bersifat salah satu dari pasangannya ada yang diuntungkan dan yang lainnya dirugikan. Bentuk simbiosis ini, organisme yang diuntungkan disebut parasit , karena mengambil keuntungan dari kehidupan organisme lainnya, sedangkan organisme yang dihisapnya sebagai tempat sumber kehidupan parasitnya disebut inang atau hospes. Misalnya, antara kehidupan tumbuhan benalu (Loranthus sp.) dengan tumbuhan pohon lainnya (mangga, alpukat, tanaman teh, dll.). Simbiosis parasitisme antara benalu dengan tanaman teh dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk membuat teh hijau (the anti kanker), karena tanaman teh ini berdampak membentuk zat semacam antibody terhadap serangan benalu. Simbiosis parasitisme yang terjadi pada hewan dapat dimanfaatkan oleh manusia dalam system pemberantasan hama secara biologis, yaitu dengan memanfaatkan lalat-lalat Diatraeophaga strialis (Famili: Tachinidae), jenis lebah tabuhan yang membuat sarangnya dari tanah adalah hiperparasit terhadap ulat-ulat hama padi, tebu dan sebagainya.
Berdasarkan jenis hospesnya, dikenal ada beberapa macam parasit seperti:
a)    Parasit obligat ialah parasit yang seluruh kehidupannya memerlukan hospes tertentu, dan hospesnya tidak dapat digantikan oleh organisme lainnya.
b)    Parasit fakultatif ialah parasit yang hidupnya tidak bergantung pada satu jenis hospes, tetapi dapat berganti-ganti hospes.
Dalam hal hubungan tersebut dikenal ada dua macam hospes, yaitu:
a)    Hospes definitif ialah hospes yang digunakan sebagai tempat melakukan perkembanganbiakan seksual bagi suatu parasit. Contohnya: nyamuk Anopheles digunakan sebagai tempat perkembangbiakan seksual (generatif) bagi Plasmodium (penyebab penyakit malaria).
b)    Hospes perantara (karier) ialah hospes yang digunakan sebagai tempat untuk menyelesaikan satu fase kehidupannya. Contohnya: siput Limnea javanica digunakan sebagai tempat pembentukan sporokista dari cacing hati (Fasciola hepatica) sebelum menjadi cacing dewasanya. Malaria (L. mal = buruk + aria = udara) Suatu penyakit demam yang disebabkan oleh Plasmodium yang ditularkan oleh nyamuk dari genus Anopheles, yang gejalanya dimulai dari timbulnya rasa dingin menggigil dirasakan oleh penderita, demam, dan penurunan panas disertai pengeluaran keringat yang banyak. Berdasarkan gejala demamnya, dikenal ada tiga macam malaria, yaitu:
1)    Malaria tertiana, yaitu malaria yang gejala demamnya selang sehari,dan penyebabnya ialah Plasmodium vivax;
2)    Malaria kuartana, yaitu malaria yang gejala demamnya selang dua hari, dan penyebabnya ialah Plasmodium malarie;
3)    Malaria tropikana, yaitu malaria yang gejala demamnya tidak teratur; dapat terjadi tiap hari, bersifat gawat seringkali bersifat fatal, dan penyebabnya ialah Plasmodium falciparum.
4)    Simbiosis Predatorisme.
Yaitu simbiosis yang bersifat organisme yang satu menjadi pemangsa dan organisme yang lainnya menjadi mangsanya. Adanya simbiosis ini melahirkan terbentuknya Rantai Makanan dan Jaring-jaring Makanan dalam kehidupan agar terjadi pelestarian pada makhluk hidup. Contoh, manusia sering memelihara kucing untuk tujuan membasmi tikus-tikus di rumahnya, di samping ia menyenangi warna bulunya. Sekalipun para predator itu tampaknya jahat dalam menerkam mangsanya, sebetulnya mereka dibimbing oleh naluri untuk kebutuhan hidupnya dan tidak rakus jika sudah mengenyangkan perutnya. Bahkan dalam hal pelestarian alam hayati, keberadaan predator sangat penting untuk mempertahankan keseimbangan populasi suatu ekosistem. Bagaimana halnya dengan manusia di lingkungannya?
5)    Simbiosis Antibiosisme.
Yaitu simbiosis yang bersifat organisme yang satu dapat meracuni kehidupan organisme pasangannya disebabkan oleh zat antibiotik yang dihasilkannya. Contoh, jamur Penicillium yang tumbuh pada koloni jamur lainnya dapat meracuninya dengan zat penisilin yang dihasilkannya. Adakah manusia yang bersifat antibiosisme di masyarakat, yang dapat menimbulkan malapetaka terhadap kehidupan manusia lainnya? Adanya pasangan-pasangan bukan hanya terjadi pada berbagai jenis tumbuhan saja, tetapi pada jenis-jenis hewan, yang kesemuanya memberi pelajaran kepada manusia bahwa dalam kehidupan manusia pun terdapat manusia-manusia yang memiliki sifat berguna terhadap orang lain, bersifat merugikan terhadap orang lain (penjahat, pencuri, perampok, penipu, dan sejenisnya), atau sekedar persahabatan antar sesama manusia.

D.   KONSEP SEHAT DAN SAKIT.
Menurut WHO Sehat adalah suatu keadaan yang lengkap meliputi kesejahteraan fisik, mental dan sosial, bukan sematamata bebas dari penyakit, cacat atau kelemahan. Konsep dari WHO Manusia dikatakan sehat adalah :
1)    Tidak Sakit.
2)    Tidak Lemah.
3)    Bahagia secara rohani.
4)    Tidak Cacat.
5)    Sejahtera secara social.
6)    Fit secara jasmani.
Keadaan sakit “ sakit” merupakan akibat dari kesalahan adaptasi lingkungan (Maladaptation) dan reaksi antara manusia dan sumber-sumber penyakit. “Sakit” berarti suatu keadaan yang memperlihatkan adanya keluhan dan gejala sakit secara subyektif dan obyektif, sehingga penderita butuh pengobatan untuk menjadi sehat. Tanda-tanda sakit menurut Cecil Helman :
Ø  Terjadinya perubahan pada tampilan tubuh seperti jadi kurus, perubahan warna kulit, rambut rontok.
Ø  Perubahan fungsi tubuh seperti frekuensi berkemih, menstruasi yang banyak, irama jantung yg tidak biasa.
Ø  Pengeluaran sesuatu dari tubuh yang tidak biasa seperti darah dalam urine, dahak, buang air besar.
Ø  Perubahan fungsi anggota tubuh (kaku).
Ø  Perubahan panca indera: kurang pendengaran, penglihatan, mati rasa.
Ø  Simptom fisik berupa ketidak nyamanan seperti rasa sakit, sakit kepala, sakit perut, demam, menggigil.
Ø  Perubahan emosi seperti gelisah, depresi, rasa takut yang sangat.
Ø  Perubahan perilaku dalam hubungan dengan orang lain, ada masalah keluarga atau pekerjaan.
Kesehatan Lingkungan merujuk pada kharakteristik kondisi lingkungan yang dapat mengganggu kesehatan, terutama aspek : a) Gaya hidup. Miras, rokok, narkoba, makanan berlemak. b) Bahan toksik. Mikroorganisme patogen, logam berat, B3. c) Bahaya fisik. Kebisingan, sinar ultra-violet, debu di udara. d) Keadaan lainnya. Kondisi tropis, adat kebiasaan yang tidak sejalan dengan konsep kesehatan, dll. Ilmu kesehatan lingkungan merupakan bagian dari ilmu kesehatan masyarakat yang menitik beratkan pada usaha perencanaan, pengorganisasian, penyusunan staff, pengarahan, koordinasi, penggalian dana, serta evaluasi semua aktivitas pengendalian lingkungan sehingga meningkatkan perkembangan fisik, derajat kesehatan serta kelangsungan hidup manusia.

E.   DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu, 1997, Ilmu Sosial Dasar, Ed.Baru, Jakarta : Rineka Cipta
Elly.M.Setiadi, dkk, 2006. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Jakarta : Kencana Prenada Media Group
Soemirat, Juli, 2000, Kesehatan Lingkungan, Jogjakarta : Gadjah Mada University\Press
Modul Acuan Proses Pembelajaran MBB, 2003. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Ilmu Kealaman dasar, Jakarta :Depdiknas, Dikti
Nursyid Sumaatmadja, 2002, Pendidikan Pemanusiaan Manusia Manusiawi, Bandung : Alfabeta
Tim MKDU UPI, 2005 Pendidikan Lingkungan Sosial Budaya dan Teknologi, Bandung : Value Press

Tidak ada komentar:

Posting Komentar