HUBUNGAN MANUSIA DENGAN LINGKUNGAN
OLEH : IRVAN INDRI ATMAKA
NPM : 10131010008
DOSEN PEMBIMBING : Prof. SUPLI EFFENDI RAHIM
PROGRAM PASCA SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT
PEMINATAN ADMINISTRASI DAN KEBIJAKAN KESEHATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA HUSADA
PALEMBANG
A.
PENDAHULUAN
Manusia tinggal dan hidup dalam lingkungannya. Mereka
berinteraksi dengan komponen lingkungan fisik, baik biotik (hewan dan tumbuhan)
maupun dengan komponen abiotik (tanah, air, batuan dan lain-lain). Manusia juga
melakukan interaksi dengan sesamanya atau lingkungan sosialnya dan mengembangkan
nilai dan norma untuk mengatur interaksi tersebut. Dari interaksi tersebut,
manusia menghasilkan kebudayaan dalam berbagai bentuk seperti bahasa, teknologi
dan lain-lain.
Pada awalnya, ketika manusia belum mengenal teknologi,
hubungan manusia dengan komponen lingkungan lainnya masih berjalan secara
harmonis. Selain jumlahnya masih sedikit, mereka juga tidak berlebihan dalam mengambil
sumberdaya alam, sehingga tidak menimbulkan kerusakan yang berarti. Namun,
seiring dengan berkembangnya teknologi, dan meningkatnya jumlah serta kebutuhan
manusia, mereka cenderung eksploitatif atau mengambil sumberdaya alam secara
berlebihan.
Akibat dari perilaku tersebut, lingkungan mengalami
perubahan.Bahan-bahan pencemar sisa aktivitas manusia mencemari lingkungan
perairan, udara dan daratan. Kerusakan tersebut pada akhirnya berdampak buruk
pada manusia, diantaranya adalah berkembangnya penyakit, bencana alam, dan
lain-lain.
B.
MANUSIA
SEBAGAI MAKHLUK SOCIAL
Manusia tidak dapat hidup sendiri. Dalam kehidupannya dia
membutuhkan orang lain untuk berkomunikasi dan berinteraksi. Bayangkanlah jika
kita hidup sendiri atau dijauhi oleh teman-teman kita, tentu akan tersiksa,
bukan? Itu berarti manusia membutuhkan kehadiran manusia lainnya. Mengapa
demikian? Manusia secara alamiah merupakan makhluk sosial. Artinya, manusia
memiliki kebutuhan, kemampuan dan kebiasaanuntuk berkomunikasi dan berinteraksi
dengan manusia lainnya. Dalam dirinya selalu ada dorongan kebutuhan untuk
berinteraksi dengan manusia lainnya. Dari interaksi tersebut kemudian manusia
membentuk kelompok-kelompok berdasarkan pada kesamaan lokasi, kepentingan,
jenis kelamin dan lain-lain. Perhatikanlah teman-teman kita ketika bermain,
mereka biasanya mengelompok sesuai dengan kepentingannya masing-masing.
Berdasarkan hal tersebut, berkelompok dalam kehidupan
manusia merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Melalui kehidupan
berkelompok manusia dapat memenuhi kebutuhan berupa komunikasi, keamanan,
ketertiban, keadilan, kerjasama, dan untuk mendapatkan kesejahteraan. Melalui
komunikasi manusia dapat menyampaikan ide atau gagasannya kepada orang lain.
Mereka juga dapat menumpahkan perasaannya melalui komunikasi. Untuk
berkomunikasi manusia mengembangkan bahasa. Selain komunikasi, manusia juga
membutuhkan keamanan dengan berkelompok. Andai mereka hidup sendiri-sendiri,
tentu akan rentan dari gangguan keamanan atau tindak kejahatan. Karena itu, di
lingkungan permukiman, manusia membentuk sistem keamanan dengan melakukan
giliran siskamling (sistem keamanan lingkungan) atau dikenal ronda. Ketertiban
juga akan terjaga karena manusia berkelompok dan tiap anggota kelompok harus
taat terhadap aturan yang dibuat kelompok. Dalam kelompok juga dimungkinkan
terjadinya kerjasama antar anggotanya, sehingga juga memungkinkan manusia bisa
hidup sejahtera.
Selain karena kebutuhan, sifat berkelompok pada manusia
didasari oleh adanya kemampuan untuk berkomunikasi, mengungkapkan rasa dan
kemampuan untuk saling bekerjasama. Berbagai kemampuan tersebut ditunjang oleh
media berupa bahasa. Dengan bahasa manusia juga dapat saling bertukar informasi
dan budaya dengan kelompok manusia lainnya. Sebenarnya hidup berkelompok juga
dimiliki oleh binatang. Perhatikanlah kehidupan semut, rusa, singa, lebah dan
lain-lain yang hidup berkelompok. Namun, perilaku hidup berkelompok yang
dilakukan oleh binatang lebih didasarkan pada naluri. Artinya, perilaku
tersebut sudah dibawa sejak lahir, sehingga bersifat tetap. Sebagai contoh, sarang
lebah dari dulu hingga sekarang bentuknya tidak berubah. Lain halnya dengan
manusia yang dinamis atau berubah dan terbentuk melalui proses belajar.
Manusia dan lingkungan memiliki hubungan yang tidak dapat
terpisahkan. Manusia sangat bergantung pada lingkungan yang memberikan
sumberdaya alam untuk tetap bertahan hidup. Adanya keterbatasan daya dukung (carrying
capacity) lingkungan, menyebabkan manusia harus memperhatikan kelestarian
lingkungan agar fungsi-fungsi lingkungan dapat berjalan sehingga dapat
mendukung penghidupan berkelanjutan. Berbagai kasus lingkungan hidup yang
terjadi saat ini lokal, regional, nasional, internasional sebagian besar
bersumber dari perilaku manusia. Kasus-kasus pencemaran dan kerusakan, seperti
di laut, hutan, atmosfer, air dsb. Bersumber dari perilaku manusia yang tidak
bertanggung jawab, tidak peduli dan hanya mementingkan diri sendiri (dalam
jangka pendek).
1.
Pengertian
Manusia.
Manusia
adalah makhluk hidup ciptaan tuhan dengan segala fungsi dan potensinya yang
tunduk kepada aturan hukum alam, mengalami kelahiran, pertumbuhan,
perkembangan, mati, dan seterusnya, serta terkait dan berinteraksi dengan alam
dan lingkungannya dalam sebuah hubungan timbal balik positif maupun negatif. Manusia
adalah makhluk yang terbukti berteknologi tinggi. Ini karena manusia memiliki
perbandingan massa otak dengan massa tubuh terbesar diantara semua makhluk yang
ada di bumi. Walaupun ini bukanlah pengukuran yang mutlak, namun perbandingan
massa otak dengan tubuh manusia memang memberikan petunjuk dari segi
intelektual relatif.
Manusia
atau orang dapat diartikan dari sudut pandang yang berbeda-beda, baik itu menurut biologis, rohani, dan istilah
kebudayaan, atau secara campuran. secara biologis, manusia diklasifikasikan
sebagai homo sapiens (bahasa latin untuk manusia) yang merupakan sebuah spesies
primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Manusia
juga sebagai mahkluk individu memiliki pemikiran-pemikiran tentang apa yang
menurutnya baik dan sesuai dengan tindakan-tindakan yang akan diambil. Manusia
pun berlaku sebagai makhluk sosial yang saling berhubungan dan keterkaitannya
dengan lingkungan dan tempat tinggalnya.
2.
Pengertian
Lingkungan.
Lingkungan adalah suatu media dimana makhuk hidup
tinggal, mencari penghidupannya, dan memiliki karakter serta fungsi yang khas
yang terkait secara timbal balik dengan keberadaan makhluk hidup yang
menempatinya, terutama manusia yang memiliki peranan yang lebih kompleks. Kehidupan
manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Baik lingkungan alam maupun
lingkungan sosial. Kita bernapas memerlukan udara dari lingkungan sekitar. Kita
makan, minum, menjaga kesehatan, semuanya memerlukan lingkungan. Pengertian
lain dari lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar manusia yang
memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung.
Lingkungan bisa dibedakan menjadi lingkungan biotik
dan abiotik. Jika kalian berada di sekolah, lingkungan biotiknya berupa
teman-teman sekolah, bapak ibu guru serta karyawan, dan semua orang yang ada di
sekolah, juga berbagai jenis tumbuhan yang ada di kebun sekolah serta
hewan-hewan yang ada disekitarnya. Adapun lingkungan abiotik berupa udara, meja
kursi, papan tulis, gedung sekolah, dan berbagai macam benda mati yang ada
disekitar. Seringkali lingkungan yang terdiri dari sesama manusia disebut juga
sebagai lingkungansosial. Lingkungan sosial inilah yang membentuk sistem
pergaulan yang besar peranannya dalam membentuk kepribadian seseorang.
C.
KORELASI
ANTARA MANUSIA DENGAN LINGKUNGAN.
1.
Pengertian Ekologi.
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi
antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainya. Berasal dari kata Yunani
oikos (“habitat”) dan logos (“ilmu”). Ekologi berarti ilmu yang mempelajari
baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan
lingkungannya.Istilah ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernest Haecke
(1834-1914). Dalam ekologi,makhluk hidup dipelajari sebagai kesatuan atau
sistem dengan lingkungannya.
Kita mengenal beberapa definisi untuk ekologi,
misalnya:
Ø Ekologi ialah cabang biologi yang mempelajari
hubungan timbal balik manusia dengan lingkungannya.
Ø Ekologi ialah studi ilmiah tentang interaksi yang
menentukan penyebaran dan kepadatan makhluk hidup.
Ø Ekologi ialah biologi lingkungan.
Bertolak dari
definisi ekologi ialah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara
manusia dengan lingkungannya maka ekologi dapat juga diartikan sebagai imu yang
membahas hubungan manusia dan lingkungannya dipandang dari kepentingan dan
kebutuhan manusia terhadap lingkungan
itu sendiri. Ekologi merupakan cabang ilmu yang masih relatif baru, yang baru
muncul pada tahun 70-an. Akan tetapi, ekologi mempunyai pengaruh yang besar
terhadap cabang biologinya. Ekologi mempelajari bagaimana makhluk hidup dapat
mempertahankan kehidupannya dengan mengadakan hubungan antara makhluk hidup
dengan benda tidak hidup di tempat hidup atau lingkungannya. Ekologi, biologi
dan ilmu kehidupan lainnya saling melengkapi dengan zoologi dan botani yang
menggambarkan bahwa ekologi mencoba memperkirakan dan menggambarkan sebagai
besar rantai makanan manusia.
Para ahli ekologi
mempelajari perpindahan energi dan materi dari makhluk hidup yang satu kepada
makhluk hidup yang lain dalam lingkungannya serta faktor-faktor yang
menyebabkannya. Serta perubahan populasi atau spesies pada waktu yang berbeda
dalam faktor-faktor yang menyebabkannya. Terjadi hubungan antarspesies
(interaksi antarspesies) makhluk hidup dan hubungan antara makhluk hidup dengan
lingkungannya. Kini para ekolog(orang yang mempelajari ekologi) berfokus kepada
ekowilayah bumi dan riset perubahan iklim. Terkadang ekologi dibandingkan
dengan antropologi, sebab keduanya menggunakan banyak metode untuk mempelajari
suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Antropologi ialah
tentang bagaimana tubuh dan pikiran kita dipengaruhi lingkungan kita, sedangkan
ekologi ialah tentang bagaimana lingkungan kita dipengaruhi tubuh dan pikiran
kita.
2. Lingkungan Hidup Manusia.
Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 Pasal 1
Angka 1 mengartikan Lingkungan Hidup sebagai “kesatuan ruang dengan kesemua
benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang
mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk
hidup lainnya”. Manusia hidup, tumbuh, dan berkembang dalam lingkungan alam dan
budayanya. Dalam lingkungan alamnya manusia hidup dalam sebuah ekosisten yakni,
suatu unit atu satuan fungsional dari makhluk-makhluk hidup dengan lingkungannya.
Dalam ekosisten terdapat komponen abiotik pada umumnya merupakan faktor
lingkungan yang mempengaruhi makhluk-makhluk hidup diantaranya: tanah, udara
atau gas-gas yang membentuk atmosfer, air, cahaya, suhu atau temperature. Sedangkan
komponen biotik diantaranya adalah: produsen, konsumen, pengurai.
Manusia hidup pasti mempunyai hubungan dengan
lingkungan hidupnya, lebih dari itu, manusia telah berusaha pula mengubah
lingkungan hidupnya demi kebutuhan dan kesejahteraan. Dari sinilah lahir
peradapan istilah Toynbee sebagai akibat dari kemampuan manusia mengatasi
lingkungan. Lingkungan hidup tidak bisa di pisahkan dari ekosistem atau system
ekologi. Ekosistem adalah satuan kehidupan yang terdiri atas suatu komunitas
makhluk hidup (dari berbagai jenis) dengan berbagai benda mati membentuk suatu
system. Lingkungan hidup pada dasarnya adalah suatu system kehidupan dimana
terdapat campur tangan manusia terhadap tatanan ekosistem. Manusia adalah
bagian dari ekosistem. Lingkungan dapat pula berbentuk lingkungan fisik dan non
fisik.Lingkungan alam dan buatan adalah Lingkungan fisik. Sedangkan lingkungan
nonfisik adalah lingkungan social budaya dimana manusia itu berada. Lingkungan
amat penting bagi kehidupan manusia.
Segala yang ada pada lingkungan dapat dimanfaatkan
oleh manusia untuk mencukupi kebutuhan hidup manusia, karma lingkungan memiliki
daya dukung, yaitu kemampuan lingkungan untuk mendukung perkehidupan manusia
dan makhuk hidup lainya arti penting lingkungan bagi manusia karena lingkungan merupakan
tempat hidup manusia. Lingkungan memberi sumber-sumber penghidupan manusia,
Lingkungan memengaruhi sifat, karakter, dan perilaku manusia yang mendiaminya.
D. MANUSIA MEMPUNYAI BANYAK KEBUTUHAN
TERHADAP SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN
Lingkungan yang merupakan
kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk
di dalamnya manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan
perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya,
bagaimanapun juga akan tercemar, dengan masuknya atau dimasukkannya makhluk
hidup, zat, energi, dan atau komponen lain kedalam lingkungan dan atau
berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam
sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan
lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan
peruntukannya. Oleh karena itu fakta yang menunjukkan bahwa tingkat kerusakan
lingkungan sudah sangat tinggi dan cenderung makin meninggi, relatif mudah
untuk ditemukan. Berita tentang terjadinya pencemaran lingkungan, baik
pencemaran udara, air maupun tanah dengan segala aspek yang terdapat didalamnya
sering kita temukan baik di dalam media massa cetak maupun media elektronik. Fenomena
mengindikasikan bahwa kerusakan lingkunagn sudah merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari kehidupan manusia. Mengingat bahwa pembangunan merupakan
aktifitas utama dari setiap Negara dalam rangka meningkatkan kesejahteraan
warganya, dapat dikatakan bahwa kerusakan lingkungan sudah merupakan bagian
yang tidak dapat dihindarkan dari kegiatan pembangunan.
Lingkungan yang tercemar akibat
kegiatan manusia maupun proses alam akan berdampak negative pada kesehatan,
kenikmatan hidup, kemudahan, efisiensi, keindahan, serta keseimbangan ekosistem
dan sumber daya alam. Oleh karena itu perlindungan lingkungan merupakan suatu
keharusan apabila meninginkan lingkungan yang lestari sehingga kegiatan ekonomi
dan kegiatan lain dapat berkesinambungan. Apabila demikian halnya maka
pengelolaan lingkungan hidup merupakan suatu keharusan. Pengelolaan lingkungan
hidup adalah upaya terpadu dalam pemanfaatan, penataan, pemeliharaan,
pengawasan, pengendalian, pemulihan, dan pengembangan lingkungan hidup.
Pengelolaan lingkungan hidup bertujuan
:
1.
Memperoleh
keselamatan hubungan antara manusia dan lingkungan.
2.
Mengendalikan
pemanfaatan sumber daya secara bijaksana.
3.
Mewujudkan manusia
Indonesia sebagai pembina lingkungan hidup.
4.
Melaksanakan
pembangunan berwawasan lingkungan hidup untuk generasi sekarang maupun yang
akan datang.
5.
Melindungi negara
terhadap dampak kegiatan di luar wilayah negara yang menyebabkan kerusakan dan
pencemaran lingkungan.
Dengan kata lain dapat
dikatakan bahwa pengelolaan lingkungan hidup merupakan penaggulangan dampak
negatif kegiatan manusia yang bertujuan untuk meningkatkan mutu lingkungan.
Dengan telah ditentukannya tujuan pengelolaan lingkungan hidup maka tugas
selanjutnya ialah menetukan strategi, kebijaksanaan dan langkah / taktik
pengelolaan lingkungan hidup. Strategi dalam hal ini adalah haluan dalam garis
besar sedang kebijaksanaan adalah upaya atau tindakan umum untuk mencapai
tujuan, langkah atau taktik adalah upaya terinci untuk mencapai tujuan yang
disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat. Perlindungan lingkungan yang
bertujuan memperoleh kualitas lingkungan yang baik, baik sekarang maupun yang
akan datang, memerlukan usaha yang sungguh-sungguh terutama dalam hal :
1.
Inventarisasi
situasi lingkungan sekarang.
2.
Lembaga serta
organisasi yang khusus menangani masalah lingkungan baik di pusat maupun di
daerah terutama menentukan penyimpangan, denda, kepada siapa denda harus
dibayar, serta yang membuat laporan tahunan situasi kualitas lingkungan per
tahun.
3.
Cara penyelesaian
soal secara ilmiah, terencana dan politis.
4.
Evaluasi
terus-menerus terhadap program-program lingkungan serta persyaratan-persyaratan
pembangunan proyek-proyek yang harus memenuhi atau mengajukan laporan, selain
dampak sosial ekonomis proyek, juga dampak proyek pada lingkungan hidup.
Sementara ini telah diundangkan
Undang-undang RI No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup untuk
menggantikan Undang-undang No. 4 tahun 1982. Undang-undang inilah yang akan
menjadi pokok dasar tolak undang-undang lain, peraturan pelaksanannya serta kebijaksanaan
pemerintah. Untuk dapat menilai apakah kebijaksanaan itu cukup baik atau tidak
tergantung pada apakah kebijaksanaan tersebut memenuhi kriteria tertentu.
Kriteria menilai kebijaksanaan terhadap lingkungan tersebut adalah :
1.
Kebijaksanaan harus
dapat diandalkan (dependable) artinya kebijaksanaan itu harus dapat dipercaya
dalam hal mencapai tujuan yang telah digariskan dan kebijaksanaan tersebut
dapat dilaksanakan secara pasti dan otomatis.
2.
Kebijaksanaan yang
baik itu sedapat mungkin dapat diperlakukan secara permanen dan dapat
disesuaikan dengan pertumbuhan ekonomi.
3.
Kebijaksanaan harus
mengarah kepada pemerataan.
4.
Kebijaksanaan harus
dapat mendorong orang untuk berusaha secara maksimum.
5.
Kebijaksanaan harus
mengarah ke efisiensi.
6.
Kebijaksanaan itu
baik bila terdapat penerimaan suka rela dari pihak-pihak yang bersangkutan.
Peranan Manusia yang bersifat
negatif terhadap lingkungan antara lain sebagai berikut:
1.
Eksploitasi yang
melampaui batas sehingga persediaan
Sumber Daya Alam makin menciut (depletion);
2.
Punah atau
merosotnya jumlah keanekaan jenis biota;
3.
Berubahnya
ekosistem alami yang mantap dan seimbang menjadi ekosistem binaan yang tidak
mantap karena terus menerus memerlukan subsidi energi;
4.
Berubahnya profil
permukaan bumi yang dapat mengganggu kestabilan tanah hingga menimbulkan
longsor;
5.
Masuknya energi
bahan atau senyawa tertentu ke dalam lingkungan yang menimbulkan pencemaran
air, udara, dan tanah. hal ini berakibat menurunnya kualitas lingkungan hidup.
Pencemaran dapat menimbulkan dampak negatif pada lingkungan dan terhadap
manusia itu sendiri.
Peranan Manusia yang
menguntungkan lingkungan antara lain:
1.
Melakukan
eksploitasi Sumber Daya Alam secara tepat dan bijaksana terutama SDA yang tidak
dapat diperbaharui;
2.
Mengadakan penghijauan
dan reboisasi untuk menjaga kelestarian keaneka jenis flora serta untuk
mencegah terjadinya erosi dan banjir;
3.
Melakukan proses
daur ulang serta pengolahan limbah agar kadar bahan pencemar yang terbuang ke
dalam lingkungan tidak melampaui nilai ambang batasnya;
4.
Melakukan sistem
pertanian secara tumpang sari atau multi kultur untuk menjaga kesuburan tanah.
Untuk tanah pertanian yang miring dibuat sengkedan guna mencegah derasnya erosi
serta terhanyutnya lapisan tanah yang mengandung humus;
5.
Membuat peraturan,
organisasi atau undang-undang untuk melindungi lingkungan dan keanekaan jenis
makhluk hidup.
E. MANUSIA PERLU MEMANFAATKAN LINGKUNGAN
DENGAN BIJAK
Teori
Etika Lingkungan Hidup.
1) Antroposentrisme
Antroposenstrisme
(antropos=manusia) adalah suatu pandangan yang menempatkan manusia sebagai
pusat dari alam semesta. Dalam konteks lingkungan hidup, tesis dasar dari
antropsenterisme adalah pemanfaatan terhadap lingkungan hidup harus tunduk pada
kepentingan manusia. Lingkungan dalam konteks ini hanya memiliki nilai
instrumental, sebagai obyek eksploitasi, eksperimen untuk kepentingan manusia. Manusia
dalam konteks ini merupakan satu-satunya subyek moral.
Beberapa Tinjauan Kritis
terhadap:
Ø Didasarkan pada pandangan
filsafat yang mengatakan bahwa hal yang bernuansa moral hanya berlaku bagi
manusia.
Ø Sangat bersifat
instrumentalistis yaitu pola hubungan manusia dan alam hanya terbatas pada
relasi instrumental semata.
Ø Sangat bersifat
teleologis, karena pertimbangan yang diambil untuk peduli terhadap alam
didasarkan pada akibat dari tindakan itu bagi kepentingan manusia.
Ø Teori ini telah dituduh
sebagai salah satu penyebab bagi terjadinya krisis lingkungan hidup.
Ø Walau banyak kritik
dilontarkan kepada teori antroposentrisme, namun sebenarnya argumen di dalamnya
cukup sebagai landasan yang kuat bagi pengembangan sikap kepedulian terhadap
alam.
2) Biosentrisme
Biosentrisme merupakan
kebalikan dari antroposentrisme. Biosentrisme merupakan suatu pandangan yang
menempatkan alam sebagai yang mempunyai nilai dalam dirinya sendiri, bukan
tergantung pada manusia. Oleh karena itu, bukan hanya manusia yang memiliki hak
untuk berada, tetapi juga alam. Manusia dalam konteks biosentrisme hanya
merupakan salah satu bagian dari alam. Seperti manusia memiliki nilai pada
dirinya sendiri, demikianpun bagian-bagian itu memiliki nilai di dalam dirinya
sendiri. Dalam konteks ini, biosentrisme merupakan sebuah komunitas moral,
dimana semua bagian dari komunitas itu memiliki nilai moral.
Beberapa Tinjauan Kritis
:
Ø
Menekankan kewajiban terhadap alam bersumber dari pertimbangan bahwa
kehidupan adalah sesuatu yang bernilai, baik kehidupan manusia maupun spesis
lain di bumi ini.
Ø
Melihat alam dan seluruh isinya mempunyai harkat dan nilai dalam dirinya
sendiri.
Ø
Memandang manusia sebagai makhluk biologis yang sama dengan makhluk
biologis lainnya.
Ø
Pada intinya teori biosentrisme berpusat pada komunitas biotis dan
seluruh kehidupan yang ada di dalamnya.
Ø
Teori ini memberi bobot dan pertimbangan moral yang sama kepada semua
makhluk hidup.
3)
Ekosentrisme
Ekosentrisme merupakan
perluasan dari bisentrisme.Biosentrisme menekankan komunitas bilogis yang
hidup, sedangkan ekosentrisme memberikan perhatian pada komunitas biologis yang
hidup dan mati. Ekosentrisme dalam konteks ini merupakan suatu paham yang
mengajarkan bahwa baik komunitas biologis yang hidup maupun yang mati saling
berkaitan satu sama lain. Air, udara, cahaya, tanah dan lain sebagainya sangat
menentukan kualitas komunitas biologis.
Beberapa Tinjauan Kritis:
Ø
Versi lain dari ekosentrisme adalah Deep Ecology yang diperkenalkan
oleh Arne Naes (filsuf norwegia).
Ø
Deep Ecology disebut sebagai
ecosophy, yang berarti kerifan mengatur hidup selaras dengan alam sebagai
sebuah rumah tangga dalam arti luas. Deep Ecology menganut prinsip biospheric
egalitarianism, yaitu pengakuan bahwa semua organisma dan makhluk hidup adalah
anggota yang sama statusnya dari suatu keseluruhan yang terkait sehingga
mempunyai martabat yang sama. Dia tidak hanya memusatkan perhatian pada dampak
pencemaran bagi kesehatan mausia, tetapi juga pada kehidupan secara keseluruhan
. Deep ecology mengatasi sebab utama yang paling dalam dari pencemaran, dan bukan sekedar dampak
superfisial dan jangka pendek.
Sumber alam dapat
digolongkan ke dalam dua bagian yakni:
Ø
Sumber alam yang dapat diperbaharui (renewable resources) atau disebut
pula sumber-sumber alam biotik. Yang tergolong ke dalam sumber alam ini adalah
semua makhluk hidup, hutan, hewan-hewan, dan tumbuhan-tumbuhan.
Ø
Sumber alam yang tidak diperbaharui (nonrenewable resources) atau
disebut pula sebagai golongan sumber alam biotik. Yang tergolong ke dalam
sumber abiotik adalah tanah, air, bahan-bahan galian, mineral, dan bahan-bahan
tambang lainnya.
Sumber alam biotik
mempunyai kemampuan diri atau bertambah, misalkan tumbuhan dapat berkembang
biak dengan biji atau spora, dan hewan-hewan menghasilkan keturunannya dengan telur
atau melahirkan. Oleh karena itu sumber daya alam tersebut dikatakan sebagai
sumber daya alam yang masih dapat diperbaharui. Lain halnya dengan sumber daya
alam abiotik yang tidak dapat memperbaharui dirinya. Bila sumber minyak, batu
bara atau bahan-bahan lainnya telah habis digunakan manusia, maka habislah
bahan-bahan tambang tersebut. Sumber alam biotik dapat terus digunakan
atau dimanfaatkan oleh manusia, bila manusia menggunakannya secara bijaksana
dalam penggunaan berarti memperhatikan siklus hidup sumber alam tersebut, dan
diusahakan jangan sampai sumber alam itu musnah. Sebab, jika suatu jenis
spesies di bumi musnah, maka jenis tersebut tidak dapat muncul kembali. Seharusnya
manusia menggunakan dengan baik sumber daya biotik dan abiotik secara tepat dan
bertanggung jawab.
Manusia memandang alam
lingkungannya dengan bermacam-macam kebutuhan dan keinginan. Manusia bersaing
dengan spesies lainnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini manusia
memiliki kemampuan lebih besar dibandingkan organisme lainnya, terutama dalam
penggunaan sumber-sumber alamnya. Berbagai cara telah dilakukan manusia dalam
menggunakan sumber-sumber alam berupa tanah, air, fauna, flora, bahan-bahan
galian, dan sebagainya. Namun sesuai dengan kondisi lingkungan saat ini manusia
susah seharusnya melakukan perubahan. Perubahan yang dimaksud disini bukanlah
transformasi yang diartikan sebagai perubahan seluruhnya (dari teknologi,
sosial budaya dan ekonomi). Perubahan disini lebih kepada perubahan hidup
berperilaku, kebiasaan dalam hidup yang menunjang pada penyelamatan lingkungan,
perilaku hidup manusia.
Masih banyak masyarakat
kita yang memiliki kebiasaan yang tidak ramah lingkungan, seperti pengrusakan
lingkungan demi keuntungan semata. Seharusnya manusia berhati-hati dalam
mengolah tanah, air, udara mahluk mahluk yang ada di dunia ini. Khususnya pada
lingkungan, manusia telah begitu banyak menimbulkan kerusakan pada bumi ini. Limbah,
kotoran, sampah dibuang begitu saja tanpa mengindahkan lingkungandan mahluk
lain.
F. HUBUNGAN
PENDUDUK DENGAN LINGKUNGAN DAN KESEJAHTERAAN.
Sejak awal, manusia merupakan
subjek sekaligus objek dalam perjalanan hidupnya guna mendapatkan
kesejahteraan. Manusia membuat, menciptakan, mengerjakan, dan memperbaiki
berbagai hal yang di tunjuk untuk kepentingan hidupnya. Di Negara penduduk
merupakan salah satu modal dasar pembangunan. Sebagai modal dasar atau asset
pembangunan, penduduk tidak hanya sebagai sasaran pembangunan, tetapi juga
merupakan pelaku pembangunan.
Hal yang berkaitan dengan
penduduk Negara meliputi:
1.
Aspek kualitas
penduduk, mencangkup tingkat pendidikan,keterampilan, etos kerja, dan
kepribadian.
2.
Aspek kuantitas
penduduk yang mencangkup jumlah penduduk, pertumbuhan, persebaran, perataan,
dan perimbangan penduduk di tiap wilayah Negara (Winarno, 2007).
Lingkungan alam seperti tanah,
dirombak untuk menampung berbagai fasilitas kebutuhan manusia. Misalnya,
perumahan dan fasilitas lain seperti pelayanan kesehatan, pendidikan, hiburan,
pasar, jalan, saluran, dan lain-lain. Air tidak hanya di manfaatkan untuk
kebutuhan makan dan minum, tetapi juga sebagai sarana rekreasi seperti taman,
kolam, dan air mancur air jaga untuk pembangkit listrik. Tidak jarang,
perombakan lingkungan berakibatkan pada kerusakan lingkungan itu sendiri. Lingkungan
telah kehilangan daya dukung lingkungan sebagai akibat tindakan manusia yang
berlebihan. Contohnya, pembangunan perumahan dan vila-vila di lereng pegunungan
telah mengakibatkan banjir besar pada daerah di bawahnya. Jadi, jumlah penduduk
semakin besar menyebabkan pemukiman yang terus berkembang dan akhirnya
berpengarubesar pula terhadap lingkungan.
Perubahan lingkungan sebagai
akibat tindakan manusia tidak jarang memberikan dampak negative, yaitu
kerusakan lingkungan hidup. Kerusakan lingkungan hidup merupakan problema besar
yang di alami umat manusia sekarang ini. Bahkan, isu tentang HAM, demokrasi,
dan lingkungan.
G. DAFTAR
PUSTAKA
Fisher, A., Bell, P.A., &
Baum, A., 1984. Environmental Psychology. New York: Holt, Rinehart, dan Wiston.
Gifford, R. 1987. Environmental
Psychology : Principle and Practice. Boston: Allyn and Bacon, Inc.
Heimstra, N.W., & Mc
Farling, L.H. 1982. Environmntal Psichology. California: Brooks/Cole Publishing
Company.
Helmi,A.F.,1994. Hidup di Kota
Semakin Sulit.Bagaimana Strategi Adaptasi yang Efektif dalam Situasi Kepadatan
Sosial? Buletin Psikologi, II(2)1-5.
Helmi, A.F., 1995. Strategi
Adaptasi yang Efektif dalam Situasi Kepadatan Sosial.Tesis.(tidak diterbitkan).
Yogyakarta: Proram Pasca Sarjana, Universitas Gadjah Mada.
Himmam, F., &
Faturohman.1995. Analisis Profil Wawasan Masyarakat terhadap Lingkungan di
daerah Industri. Laporan Penelitian. (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas
Psikologi GM. Bantuan dana bank Dunia XXI.
Holahan C.J. 1982.
Environmental Psychology. New York: Random House.
Veitch, R. & Arkkelin, D.,
1995. Environmental Psychology: An Interdisciplinary Perspective. New Jersey:
Prentices Hall.
(On Line) (http://virgyansyah.blogspot.com/2010/10/hubungan-manusia-dengan-lingkungan.html, diakses tanggal 31 April 2014).
(On Line) (http://pustaka-makalah.blogspot.com/2011/03/hubungan-manusia-dan-lingkungan-sekitar.html, diakses tanggal 31 April 2014).
(On Line ) (http://rzaharani.blogspot.com/2012/05/hubungan-manusia-dan-lingkungan.html, diakses tanggal 31 April 2014).
(On Line) (http://rajes08predator.blogspot.com/2012/04/biosfer-dan-makhluk-hidup.html, diakses tanggal 31 April 2014).
(On Line) (http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/06/manusia-dan-lingkungan-hidup.html, diakses tanggal 31 April 2014).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar